ANALISA BEBAN KERJA PENGAWAS OPERASIONAL TAMBANG DI MINING OPERATION DIVISION, PT. KALTIM PRIMA COAL

Didik Mardiono

Abstract


Berdasarkan surat edaran Kepala Inspektur Tambang pada bulan Juli 2018, data
kecelakaan tambang Indonesia menunjukkan bahwa telah terjadi: kecelakaan
berakibat fatal (meninggal) 10 orang, cidera berat 38 orang, cidera ringan 38
orang. Beberapa penyebab dari kecelakaan tambang ini antara lain kondisi tidak
aman karena cuaca, kurangnya pengetahuan karyawan atau pengawas terhadap
bahaya dan resiko pekerjaan, kurangnya pengawas dan personil di areal kerja, dan kurangnya kendali manajemen terhadap temuan inspeksi, rasio pengawas, pelatihan pengawas . Salah satu instruksi Kepala Inspektur Tambang adalah pemetaan kembali rasio kebutuhan jumlah pengawas terhadap area kerja yang menjadi tanggung jawabnya. Divisi Mining Operation yang merupakan salah satu divisi yang bertanggung jawab terhadap operasional tambang di wilayah PT. Kaltim Prima Coal telah melakukan analisa beban kerja pengawas operasional tambang. Beberapa kriteria yang dimasukkan dalam perhitungan analisa beban kerja meliputi:

1. Aktifitas Pekerjaan: kriteria ini diukur berdasarkan waktu pengawasan terhadap aktifitas operasi tambang yang dihadapi, dan prosedur-prosedur kerja yang terikat pada pekerjaan tersebut. Kriteria ini mempunyai bobot 22% dari keseluruhan kriteria.

2. Jumlah Karyawan/bawahan langsung: Berapa banyak jumlah karyawan atau operator yang secara administrasi dibawah tanggung jawab seorang pengawas. Semakin banyak jumlah karyawan yang menjadi tanggung jawabnya maka semakin besar bobot kerjanya. Kriteria ini mempunyai bobot 16% dari keseluruhan kriteria.

3. Jumlah alat yang diawasi: pengukurannya didasarkan pada jumlah alat beroperasi di wilayah/area kerja yang menjadi tanggung jawabnya, seperti alat gali, alat kut, dozer, dll. Bobot kriteria ini adalah 14%.

4. Luasan area kerja: Diukur berdasarkan radius kerja, semakin luas area kerja yang menjadi tanggung jawabnya maka semakin tinggi beban kerja seorang pengawas. Bobot kriteria untuk luasan area kerja adalah 14%.

5. Fungsi koordinasi: Dalam menjalankan pekerjaannya, seorang pengawas pasti berkoordinasi dengan pihak-pihak luar departemen yang berhubungan dengan pekerjaannya. Semakin banyak fungsi koordinasi maka beban kerja pengawas juga semakin tinggi. Bobot kriteria ini adalah 14%.

6. Indikator unjuk kerja: Setiap pengawas yang bertanggung jawab dimasing-masing area kerja mempunyai beban tanggung jawab untuk memastikan indicator unjuk kerja terutama alat tambang bisa tercapai. Semakin banyak indicator unjuk kerja makaka semakin besar beban kerjanya. Kriteria ini mempunyai bobot 20%.

Analisa beban kerja pengawas operasional tambang dilakukan pada pengawas yang bertanggung jawab pada area: Loading point, Dumping point, Road, Project, Drill, dll. Dari hasil analisa didapat bahwa beberapa posisi pengawas operasional mempunyai beban kerja yang tinggi, sehingga direkomendasikan menambah pengawas operasi agar beban kerjanya bisa berkurang dan fokus pengawasan terhadap keselamatan kerja bisa meningkat.


Keywords


beban kerja, pengawas operasi

Full Text:

PDF

References


Andrew Steinhubl, John Van Leeuwen, William Rogers. 2009, Beat the

Clock Increasing Workforce Productivity in Process Industries, Booz &

Company, USA.


Article Metrics

Abstract view : 406 times
PDF - 125 times

DOI: https://doi.org/10.36986/ptptp.v0i0.11

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.