STUDI KARAKTERISTIK BEBERAPA BATUBARA INDONESIA UNTUK MENDUKUNG PROSPEK PEMANFAATANYA

Authors

  • Boas Suhat Program Studi Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung,
  • Agus Haris Widayat Kelompok Keahlian Eksplorasi Sumberdaya Bumi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung
  • Komang Anggayana Kelompok Keahlian Eksplorasi Sumberdaya Bumi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung

Keywords:

batubara uap, batubara kokas, kualitas, spesifikasi, pembatubaraan

Abstract

Batubara merupakan hasil tambang yang memiliki beragam manfaat. Pada umumnya, batubara di Indonesia dimanfaatkan sebagai bahan bakar yang biasa disebut batubara uap atau sebagai bahan baku industri baja yang biasa disebut batubara kokas. Baik batubara uap maupun batubara kokas memiliki spesifikasi kualitas yang berbeda satu sama lainnya sesuai dengan kebutuhan dari proses pemanfaatanya masing-masing. Agar batubara dapat dimanfaatkan sesuai dengan kualitasnya, perlu dilakukan pengujian kualitas terhadap sampel-sampel batubara. Pada penelitian ini dipilih contoh batubara yang berasal dari beberapa formasi geologi pembawa batubara, yaitu Formasi Batu Ayau dan Formasi Tanjung di Cekungan Barito, Formasi Balikpapan di Cekungan Kutai, dan Formasi Muara Enim di Cekungan Sumatera Selatan. Pengujian yang dilakukan meliputi pengujian proksimat, pengujian ultimat, pengukuran nilai kalori, dan pengujian FSI (Free Swelling Index). Hasil dari pengujian-pengujian tersebut akan mencerminkan proses pembatubaraan yang telah dialami oleh batubara. Batubara yang telah mengalami pembatubaraan hingga peringkat Subbituminus dengan tipikal Gross Calorific Value di kisaran 5000 kcal/kg (ar), kandungan air di bawah 36 % (ar), kandungan abu di bawah 15% (adb), kandungan zat terbang di kisaran 40% (adb), dan kandungan sulfur di bawah 0,9% (adb) lebih cocok untuk dimanfaatkan sebagai batubara uap. Sedangkan batubara yang telah mengalami pembatubaraan hingga peringkat bituminus dengan tipikal kandungan air di bawah 15% (ar), kandungan abu di bawah 12% (adb), kandungan belerang di bawah 1% (adb), dan FSI di atas 6 lebih cocok untuk dijadikan batubara kokas.

References

American Society for Testing and Materials. 2000. Standard Classification of Coals by Rank, ASTM D388. United States of America: ASTM International.

Ginger, D., dan K. Fielding, 2005, The Petroleum System and Future Potential of the South Sumatera Basin, Proceedings IPA 30th Annual Conv. 67-89.

Pusat Sumberdaya Geologi (PSDG). 2016. Executive Summary Pemutakhiran Data dan Neraca Sumberdaya Energi Tahun 2016. Bandung: PSDG, 25 pp.

Rance H. C. 1975. Coal Quality Parameters and their Influence in Coal Utilisation, Shell International Petroleum Co. Ltd, Technical Reports on Coal.

Satyana, Awang & Nugroho, Djoko & Surantoko, Imanhardjo. (1999). Tectonic controls on the hydrocarbon habitats of the Barito, Kutei, and Tarakan Basins, Eastern Kalimantan, Indonesia: Major dissimilarities in adjoining basins. Journal of Asian Earth Sciences - J ASIAN EARTH SCI. 17. 99-122. 10.1016/S0743-9547(98)00059-2.

Speight, J.G. 2013. The Chemistry and Technology of Coal 3rd Edition. CRC Press. Taylor & Francis Group, London. 779 p.

Thomas, L., 2002. Coal Geology. Willey-Blackwell. John Willey & Son Ltd. 384 p.

Thomas, L., 2013. Coal Geology. Ed. 2. Willey-Blackwell. John Willey & Son Ltd. 431p.

Downloads

Published

2021-03-12