ALTERNATIF PENGGANTI TITIK PENAATAN PADA PEMBUKAAN PIT PELIKAN SOUTH EXTENSION

Yudha Febriana, Zakaria Al Ansor

Abstract


Pit Pelikan South Extension (PSE) merupakan salah satu tambang baru yang
akan dibuka oleh PT. Kaltim Prima Coal (KPC). Versi internal berdasar v70B 2017 diperkirakan terdapat 4,582 juta ton batubara serta 41,075 juta m3 overburden yang bisa dikeluarkan dari perut bumi. Guna mendukung angka tersebut, validasi data diperlukan dengan cara pemboran (eksplorasi) dengan jarak yang rapat 100x100m). Data tahun 1990 memiliki 19 titik lubang, kemudian dari hasil eksplorasi lanjut rencana meningkat menjadi 115 titik lubang. Merapatkan jarak antar lubang berarti menambah bukaan terhadap hutan alami. Sesuai standard operational procedure (SOP) internal perusahaan, aktivitas pemboran dengan jarak 100x100m membutuhkan kolam pengendap berupa titik penaatan. Kedepannya, kolam penaatan ini juga berfungsi untuk menjaga baku mutu air ketika pit sudah dibuka Tantangan di area pit PSE adalah kondisi topografi dimana arah aliran airnya tidak menuju ke satu titik. Kontur yang ada saat ini tersusun seperti jejeran piramid, berbukit curam sempit, dengan 8 titik keluaran air. Luas total daerah angkapan airnya (DTA) 164Ha. Hampir separuh menjadi footprint pit, yakni 80Ha. Area footprint-nya bila dibagi lagi menjadi sub daerah berdasar aliran air terdiri atas 8 sub-DTA. Tiga sub-DTA diantaranya masing-masing harus dibangun kolam untuk menangkap aliran air. Sedangkan 5 sub-DTA yang lain dapat direkayasa
dengan membuat contour drain untuk mengarahkan aliran ke kolam pompa.
Tiga sub-DTA dengan total luasan 56Ha perlu dibuat kolam sebagai syarat
sebelum memulai pemboran dan aktivitas penambangan. Pilihannya apakah semua dijadikan sebagai titik penaatan atau bukan? Bila dibuat menjadi kolam titik penaatan, aliran air harus patuh dari ambang baku pH, TSS, Fe dan Mn. Kru water reatment harus tersedia di 3 kolam selama 24 jam. Sedangkan jika tanpa titik penaatan, aliran air harus dibendung kemudian dipompa ke titik penaatan terdekat. Dua pilihan ini harus dipertimbangkan secara tepat, cepat dan hemat.
Atas dasar diatas, infrastruktur untuk mengelola air di Pit PSE diputuskan
dibuat 3 kolam namun tidak dijadikan sebagai titik penaatan. Semua kolam
dilengkapi dengan pompa, karena tidak diijinkan sama sekali untuk mengalirkan
air ke hilir. Kolam ini sebagai wadah untuk mengumpulkan air dari sub-DTA.
Ketika terjadi hujan, kolam akan terisi dari aliran run off. Di elevasi tertentu pompa harus dihidupkan, air diarahkan ke klaster Megaria sebagai kolam penaatan. Dari hasil perhitungan kolam 1 dan 2 harus disediakan minimal pompa berkapasitas masing-masing 0,1m3/s dan kolam 3 berkapasitas 0,2m3/s. Dengan masa layan kolam 3 tahun sampai elevasi batas terluar pit PSE lebih rendah daripada elevasi kolam pompa.


Keywords


Pit, Titik Penaatan, Kolam Pompa

Full Text:

PDF

References


Arsyad, Sitanala, 2012, Konservasi Tanah & Air, halaman 50, 189-190, IPB Press, Bogor Australian Pump Manufacturers’ Associaton LTD, 1982. Pipe Friction Handbook, MTIA House Canberra, ACT 2601.

Chow, Ven Te, Maidment, David R., Mays, Larry W., 1988. Applied Hydrology, halaman 242-265, McGraw-Hill Book Company, Singapore ISBN 0-07-100174-3.

Civil & Environmental Planning Section, 2015. Guideline of Mine Water

Management, Arsip Internal (tidak diterbitkan untuk umum), Mine Planning Department, Sangatta.

I Made Kamiana, 2011. Teknik Perhitungan Debit Rencana Bangunan Air, halaman 81-85, Graha Ilmu, Yogyakarta.

K.D. Nelson, 1991. Design and Construction of Small Earth Dams, halaman 46, Inkata Press, Melbourne Australia, ISBN 0-909605-34-3

Pump Manufactures Hire Sales, 1994, Multiflo Pumps by Multiflo Austalia Pty. Ltd.


Article Metrics

Abstract view : 48 times
PDF - 55 times

DOI: https://doi.org/10.36986/ptptp.v0i0.25

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.